PENGALAMAN BAIKKU YANG TIDAK PERLU KALIAN ALAMI
Akhir Desember dinyatakan positif Covid-19. It was insane. Bagaimana bisa aku yang sudah diam di rumah dari pertengahan desember karena tipus, tiba-tiba positif Covid.
Ada yang bilang bahwa tipusku itu adalah gejala/ inkubasi dari si virus. Aku tidak mencari jawaban atas segala kebingunganku. Capek yang ada. Tapi satu hal yang aku syukuri adalah perbedaan keadaan tubuhku saat didiagnosa tipus lalu dilanjutkan dengan covid.
Sejak pertengahan desember setelah tipus, semua hal yang biasanya aku lakukan tiba tiba tidak bisa. Duduk, makan sendiri, minum sendiri, berjalan, tidur, nonton film, pegang hp, nonton tv, dan bahkan untuk memikirkan suatu hal saja adalah sebuah kesulitan.
Setiap malam aku tidak bisa tidur. Aku selalu minta obat yang bisa membuatku mengantuk, tapi tetap tidak bisa. Pada waktu menunggu tidur itulah aku berfikir hal hal yang aneh. Aku menyadari bahwa sedang mengalami kehaluan, tapi pikiran ini tidak bisa hilang. Aku selalu berfikir bahwa aku tidak punya badan, aku berusaha meraih kakiku dan merasakan apakah tanganku masih ada atau tidak. Aku berfikir kenapa tangan dan kakiku terpisah dan aku mencari dimana badanku berada.
Haha aku sampai bingung sendiri sekarang, kenapa aku bisa berfikir hal seperti itu. Hal paling bodoh yang pernah kupikirkan. Entah karena demamku, reaksi obat atau memang aku sudah tidak tahan dengan sakit ini, ya itu yang kupikirkan tiap malam hingga aku didiagnosa Covid.
Setelah virus ini terdeteksi di badanku, keadaan rumah menjadi lebih panik. Berusaha mencari rumah sakit atau jalan keluar lain yang bisa dijalani. Obat bertambah banyak dan protokol kesehatan yang memuakkan harus juga dijalankan meskipun aku sendirian di dalam kamar. Telepon dari saudara terus datang untuk menyemangati papah dan mamah. Aku merasa ramai, tapi di luar kamarku.
Saat itulah aku mengalami natal paling sunyi sepanjang hidupku.
2-3 hari setelah di diagnosa, aku merasa lebih baik dan hidup kembali. Aku sudah bisa ke kamar mandi tanpa ngos-ngosan, ambil minum sendiri, makan sendiri, tidak demam, bisa tidur, bisa pegang hp, netflix and chill dan hal hal yang tidak bisa kulakukan 2 minggu kebelakang.
Aku merasa sehat saat Covid datang. A blessing in disguise, kan?
Saat ini sudah 1,5 bulan aku berada di rumah. Hampir gila memang. Tapi bisa apa? Aku membayar semua kegiatan tak berprotokol kesehatan yang pernah aku jalani selama pandemi ini ada.
Tidak bisa berangkat dan merasakan euforia hari pertamaku di kantor baru, harus mencari jalan keluar dan bertahan selama bekerja dari rumah, ketakutanku bertemu teman-teman, ketakutan teman teman bertemu denganku, bingung kenapa belum negatif padahal sudah dapat izin lepas isolasi, menyesal karna membuanng-buang uang untuk swab yang akhirnya masih positif juga wkwk (Ah. Untuk dinyatakan sembuh, tidak lagi dengan hasil swab negatif, tetapi dari rekomendasi dokter yang merwat kita dan dari isolasi mandiri yang kita telah jalani), dan banyak hal yang aku sesali.
Sekarang aku sudah kembali suka makan, nonton film, video call, mandi air dingin, menyalakan kipas angin, memasak cemilanku sendiri dan hal menyenangkan lainnya. Tapi tetap ditambah kebiasaan baru yang sampai sekarang tidak biasa bagiku; minum rebusan rempah. I just can't. Hahaha
Aku sudah membayarnya. Sekarang karena aku sudah hidup kembali. Aku tidak akan berhutang lagi. Mungkin aku tidak sanggup membayar untuk kedua kalinya. Terlalu menyakitkan.
Terima kasih atas semua perhatian yang teman-teman berikan. Bertanya kabar tak henti, mengirimkan makanan, video call sampai ngantuk, main ludo atau garlic.io, membantu membelikan headset, menyemangati atau mungkin menyalahkan (siapa tau ada kan?) hehe. Pengalaman baik ini kuharapkan tidak dirasakan oleh kalian. Coba pengalaman lain saja hehe
Untuk teman-temanku yang sudah berjuang dan sudah kembali pulang ke Rumah Bapa, terima kasih untuk perjuangannya. Kalian hebat sekali.
Terakhir,
stay safe, ya kalian. Virus ini sangattttt dekat dengan kita. Ini belum berakhir. Stay safe.
Tuhan jaga.
Komentar
Posting Komentar