Apa Tuhan itu baik?


“Kalau Cuma omongan “Tuhan itu baik”, rasanya kurang greget. Rasanya klise. Ya, Tuhan itu baik. Trus?”

Saat jatuh, akan cari pertolongan dan saat terbang, akan lupa daratan. 

Sama seperti keadaanku baru-baru ini. Rasanya seperti hambar. Hidup hanya seperti menjalankan rutinitas tanpa tujuan. 

Bosan? Mungkin saja. 
Tapi ini lebih karena aku tidak memupuk perasaanku.

Jarang beribadah rasanya sudah cukup menjadi momentum yang menjauhkan ku dari Dia. Tidak di pupuk. Mungkin terasa sudah menabur banyak, padahal belum sama sekali.

Sampai diingatkan lagi tentang satu hal bahwa Tuhan itu baik.

Cerita ini dimulai dari beberapa bulan lalu, saat aku mulai kembali ke Solo untuk bekerja.
Tanggal tua cukup membuat bingung. Makanan apa yang aku makan hari itu dan berapa uang yang akan aku persembahkan. Sisa uang 50ribu untuk hidup 3 hari ditambah uang persembahan, rasanya tidak akan cukup.

Sore hari sebelum berangkat Ibadah, salah seorang sahabat berkata bahwa Tuhan tidak akan membuatmu kelaparan.

Oke we will see. Perasaan antara mengimani atau menantang Tuhan.

Dengan uang yang aku miliki, kupersembahkan setengahnya. Tetap dengan perasaan yang sama. Mengimani atau menantang.

Rencananya ketika pulang beribadah, aku akan langsung kembali ke kos untuk langsung tidur dan melupakan makan malam. Iya, sudah tidak punya uang.

Perjalanan menuju motor, ada seseorang yang menyapa. Stranger kalau kata orang-orang. Tidak kenal. Tidak pernah bertemu sebelumnya, kecuali saat didalam gedung ibadah ketika menyalaminya. Dia hanya seorang yang kebetulan sedang dinas di Solo dan kebetulan beribadah di tempat ibadahku dan kebetulan lagi duduk disebelahku saat beribadah.

Dengan tiba-tiba, dia memintaku untuk menemaninya makan malam. Long short story, berkat Tuhan mengalir jelas.

Cerita ini seakan-akan seperti cerita bualan yang sedang ditulis oleh anak yang sedang menjelaskan tentang kebaikan Tuhan. Tapi sayangnya, cerita ini benar-benar terjadi.

Sekarang ketika aku benar-benar jatuh. Benar-benar sedang di bawah. Benar-benar terasa hambar. Tuhan selalu membuatku mengingat hari itu. Ketika semua pintu terihat tertutup, ketika semua jendela pun tertutup, ketika aku merasa bahwa tidak mungkin ada jalan Tuhan untuk memberikan berkat, disitu Tuhan punya cara yang unik untuk menunjukan bahwa Dia selalu ada.

Semoga kalian juga punya momentum indah yang membuat kalian selalu ingat bahwa He is good all the time and all the time He is good.

“Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan,
Terlebih diriku dikasihi Tuhan.
Bunga bakung di taman di beri keindahan,
Terlebih diriku dikasihi Tuhan.
Burung yang besar, kecil, bunga indah warnanya,
Satu tak terlupa oleh Penciptanya..”
 

Komentar

Postingan Populer